Posted by: sman70jkt | April 3, 2009

penerimaan siswa baru 2009

dear pengunjung,

terima kasih banyak atas minat untuk menjadi siswa di sini, banyak pertanyaan tentang syarat masuk, berapa nilai NEM minim, dsb dsb.

seperti tahun lalu,  PSB 2009,  akan mengikuti pola yang sama yaitu melalui PSB online DKI Jakarta. Siswa siswi lulusan SMP/MTs, mendaftarkan diri di SMA di Jakarta, berkas akan dientry ke dalam sistem PSB Online. Penerimaan berdasarkan daya tampung sekolah dan urutan nilai tertinggi.  Jadi tidak ada panduan baku tentang batas minimum NEM, tergantung berapa banyak daya tampung, berapa banyak calon yang mendaftar, dan berapa NEM calon siswa.

terima kasih

Posted by: asafari | September 13, 2008

bullying antara permainan dan relasi kuasa

Oleh Iqrak Sulhin

Kebiasaan kita atau masyarakat secara keseluruhan adalah membicarakan sesuatu secara serius ketika sesuatu itu sudah berada pada titik kronis. Bullying bukanlah fenomena baru karena dalam kenyataannya tindakan atau perilaku yang disebut bullying ini telah dipraktekkan lama. Sejarah bangsa ini juga memperlihatkan terjadinya “massive bullying” yang dilakukan penjajah terhadap anak-anak bangsa. Pemerintah kolonial melakukannya hampir di semua aspek kehidupan. Dari aspek sosial, pribumi diposisikan sebagai kelas masyarakat ketiga yang harus disingkirkan dari aktivitas perekonomian dan politik serta lebih tepat diposisikan hanya sebagai buruh. Secara psikologis, berulang kali dilakukan intimadasi. Secara fisik, penjajah melakukan kekerasan hingga berjatuhan korban jiwa yang jumlahnya tak terhitung dengan baik oleh sejarah. Kesemua tindakan itu dilakukan oleh pemerintah kolonial dengan satu tujuan utama; kekuasaan atas Indonesia.

Namun demikian, sebelum membahas lebih jauh masalah bullying ini, perlu disampaikan terlebih dahulu bahwa penggunaan terminologi (istilah) secara tidak tepat untuk sebuah peristiwa dapat membuat kesalahan dalam memahami peristiwa tersebut serta upaya penanggulangannya jika peristiwa itu merupakan sebuah masalah. Sebagai contoh, penggunaan istilah kejahatan untuk setiap perbuatan pelanggaran terhadap hukum pidana. Secara sosiologis, kejahatan belum tentu perbuatan pidana, namun perbuatan pidana sudah tentu kejahatan. Lantas apa hubungannya ketepatan dalam penggunaan terminologi ini perlu dalam kasus Bullying?

Dalam kenyataannya, pemahaman masyarakat bahkan yang telah terdokumentasi dengan baik dalam bentuk tulisan sangat beragam, meskipun terlihat adanya konsensus (kesepakatan). Menurut batasan yang ditemukan di http://www.bullying.org (diakses 31/01/08), bullying adalah (suatu kondisi) di mana seseorang atau kelompok menyakiti atau mengendalikan orang lain dalam cara yang berbahaya. Masih menurut batasan ini, bullying memiliki tiga aspek yang terkait. Pertama, adanya perbedaan kekuasaan antara mereka yang melakukan dengan mereka yang menjadi penderita. Kedua bullying adalah perilaku menyakitkan yang selalu diulang-ulang. Ketiga bullying bersifat disengaja. Beberapa bentuk bullying yang dimaksud batasan ini adalah memukul, menendang, mendorong dengan kuat, atau memaksa seseorang melakukan sesuatu yang tidak ingin ia lakukan. Selain dalam bentuk tindakan fisik, bullying juga berbentuk verbal, seperti memanggil seseorang dengan istilah yang tidak menyenangkan, atau membicarakan sesuatu yang buruk dibelakang seseorang. Lebih jauh lagi, bullying juga menyentuh aspek psikis, ketika tindakan tersebut membuat seseorang merasa tidak aman, ketakutan, atau membuat seseorang merasa dirinya tidak penting. Dari batasan ini dapat dilihat bahwa bullying adalah tindakan yang menyentuh tiga aspek sekaligus, yaitu verbal, fisik, dan sosial psikologis.

Wikipedia.com (diakses 31/01/08) memberikan batasan yang relatif tidak terlalu berbeda dengan sebelumnya. Dalam hal ini Bullying dipahami sebagai tindakan yang secara sengaja menyebabkan bahaya kepada orang lain melalui kekerasan verbal, fisik, serta bentuk-bentuk yang halus dari koersi seperti manipulasi. Bullying ini umumnya dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kekuasaan/dominasi. Salah satu aspek menarik dari batasan ini adalah adanya penjelasan tentang konteks di mana bullying dapat terjadi, yaitu di sekolah, di tempat kerja, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat.

Beberapa batasan lain yang juga perlu untuk disampaikan adalah dari Besag (1989), yaitu tindakan berbentuk perilaku agresif yang berulang-ulang yang secara sengaja ditujukan untuk menyakiti orang lain, dengan karakteristik (utama) untuk mendapatkan kekuasaan atas seseorang. Menurut Carey (2003) serta Whitted dan Dupper (2005) bullying termasuk tindakan penamaan yang tidak menyenangkan, kekerasan verbal atau tertulis, kekerasan fisik, serta dipinggirkan dari aktivitas (pergaulan) termasuk dari institusi-institusi sosial. Sementara Crothers dan Levinson (2004) mengatakan bullying dilakukan (salah satunya) untuk mendapatkan popularitas atau perhatian.

Pertanyaannya kemudian, apa perbedaan antara bullying dengan kejahatan kekerasan (violent crimes). Bukankah aspek-aspek dari Bullying sebagian besar juga terkait dengan aspek-aspek kejahatan kekerasan? Secara kriminologis, kekerasan adalah salah satu bentuk kejahatan yang dapat terjadi dalam tiga aspek sekaligus, yaitu fisik, psikologis dan sosial. Jika dilihat dari definisi-definisi di atas antara bullying dengan kekerasan memiliki perbedaan yang sangat tipis. Salah satu tujuan dari tulisan ini adalah mencoba memilah dengan jelas kapan kita menganggap sesuatu itu sebagai bullying atau sebagai kejahatan kekerasan, agar upaya preventif terhadap tindakan ini dilakukan dengan tepat dan tidak membuat masalah menjadi semakin buruk.

Harian Kompas (11 November 2007) memberitakan terjadinya penyiksaan terhadap siswa junior oleh para seniornya di Sekolah Menengah Atas 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan. Penyiksaan ini juga dilakukan oleh geng Gesper bentukan ratusan siswa SMA 34 tersebut yang memaksakan keanggotaan baru. Para korban hingga menderita patah tulang. Selain dalam bentuk fisik, para korban juga mengalami teror mental. Kekerasan demi kekerasan bahkan menjadi “ritus”. Kasus yang terjadi di SMU 34 ini secara sepintas dapat disebut sebagai kejahatan kekerasan karena unsur pelaku, tindakan, dan korbannya jelas. Bahkan lebih jauh sudah masuk ke area perbuatan pidana. Namun kenyataanya media massa dan juga masyarakat umumnya hanya melihat kasus ini sebagai “bullying”. Penulis sendiri beranggapan kasus di SMU 34, lebih tepat disebut sebagai bullying. Lantas pertanyaannya, kapan sebuah tindakan “bullying” yang selama ini kita pahami lebih tepat dikategorisasi sebagai kejahatan kekerasan dan kapan lebih tepat sebagai ‘bullying’?

Etiologi (Latar Belakang)

Untuk mendapatkan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut, ada baiknya didiskusikan terlebih dahulu tentang apa saja yang menjadi faktor penyebab bullying. Dalam pemahaman penulis, bullying adalah sebuah tindakan yang berada di antara domain “permainan (game)” dan “relasi kekuasaan”.

Dalam memahami bullying sebagai “permainan”, penulis tidak ingin mengatakan bahwa tindakan ini adalah tindakan yang tidak memiliki konsekuensi buruk. Namun perlu dipahami, bahwa bullying yang terjadi umumnya di sekolah (mulai dari dasar, pertama hingga menengah atas) tidak benar-benar dimaksudkan untuk menyakiti korban. Argumentasi ini berangkat dari prinsip dasar dalam perkembangan manusia, bahwa dalam usia anak (0-18 tahun) kecenderungan manusia belum dapat memahami secara baik apakah perbuatan atau tindakan yang dilakukannya itu benar atau salah secara sosial. Tindakan yang dilakukan oleh usia anak tersebut adalah bagian dari “permainan” mereka.

Dalam kasus smack down misalnya, penulis berpandangan kekerasan yang dilakukan anak hanyalah bagian dari permainan mereka dan bersifat alamiah pada usia anak. Dalam kasus SMU 34, status pelaku sebagai anak membuat dirinya menanggung kasalahan yang “lebih ringan” bila tindakan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, karena secara psikologis perkembangan mereka pada usia tersebut belum dapat memahami secara tepat sesuatu perbuatan adalah salah atau benar. Lantas siapa yang harus disalahkan dalam konteks ini? Dalam pandangan penulis, ada faktor lain yang lebih makro sifatnya yang memaksa usia anak melakukan tindakan-tindakan yang jika dilakukan oleh orang dewasa jelas disebut sebagai kejahatan kekerasan. Faktor tersebut adalah faktor sosialisasi anak. Terutama peer group dewasa dan media massa.

Dalam kenyataannya, kasus bullying yang dilakukan oleh siswa SMP/SMU tidak terlepas dari pengaruh “pewarisan ideologi” dari para lulusan. Faktor ini juga sangat berpengaruh terhadap pewarisan tradisi siapa “kawan” dan siapa “lawan” dalam tawuran. Media massa juga memberikan edukasi yang antisosial, khususnya dalam sejumlah sinetron atau film remaja yang berisi “kebencian” hanya karena alasan kelompok kaya atau miskin, kelompok cantik atau jelek, kelompok gaul atau cupu. Meskipun sinetron atau film hanyalah fiksi, namun secara tidak langsung memberikan model bagi usia anak untuk berperilaku. Ironisnya, kecenderungan ini juga diterjadi untuk segmentasi usia anak sekolah dasar.

Pada level yang lebih serius, bullying memang lebih tepat disebut sebagai kekerasan. Sebagaimana yang telah saya singgung di awal tulisan ini, bullying telah dilakukan lama jauh sebelum Indonesia merdeka. Ketika pemerintah kolonial melakukan kekerasan fisik, psikologis, dan sosial terhadap pribumi. Dalam konteks yang lebih serius tujuan utamanya adalah dominasi atau kekuasaan, sehingga memudahkan terjadinya pengambilan aset dan penyingkiran secara sosial, ekonomi hingga politik. Faktor utama yang menjadi penyebab adalah perbedaan dalam relasi kekuasaan. Pribumi menjadi korban karena secara politik berada pada posisi yang lemah di hadapan pemerintah kolonial.

Kekerasan atau Bullying?

Menurut penulis, faktor utama yang dapat digunakan untuk membedakan antara bullying dengan kekerasan secara terminologis adalah pelakunya sendiri. Meskipun kembali ditekankan bahwa antara keduanya memiliki perbedaan yang sangat tipis. Dari sejumlah definisi yang telah disinggung di atas, tidak satupun yang secara jelas melihat siapa yang menjadi pelaku. Terlebih lagi konteks usianya. Tujuan utama membedakan antara keduanya dengan melihat konteks usia pelaku adalah untuk menemukan bentuk perlakuan atau tindakan yang tepat bagi si pelaku. Atau untuk menemukan upaya pencegahan yang lebih baik dengan tidak membuat masalah menjadi semakin parah.

Istilah bullying dengan demikian hanyalah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh usia anak. Meskipun kembali ditekankan bahwa tindakan tersebut pada hakekatnya adalah kekerasan. Namun pelakunya adalah usia anak yang belum dapat memahami secara baik apakah tindakan yang dilakukannya benar atau salah. Dalam konteks yang lebih luas, usia anak belum bisa melakukan pertimbangan yang rasional atas tindakannya. Oleh karenanya, upaya pencegahan yang sebaiknya dilakukan adalah memutus rantai pewarisan ideologi dan memberikan sosialisasi yang pro sosial. Dalam hal seorang anak yang melakukan bullying mengakibatkan korban jiwa, maka penyelesaian kasus sebaiknya dilakukan secara kekeluargaan, dengan pertimbangan utama menjauhkan anak dari penjara. Bagaimana dengan bullying oleh pelaku dewasa? Jelas kekerasan dan konsekuensi pidana utuh dapat diberikan kepada pelakunya.

Posted by: sman70jkt | July 25, 2008

suara alumni

Dear all,

halaman ini disediakan bagi alumni untuk berbagi informasi dan juga berbagi ide tentang bagaimana dapat berkontribusi terhadap almamaternya. Mohon gunakan kata kata yang santun dan tidak melecehkan SARA.

Seluruh komentar di blog ini melalui moderasi untuk menjamin kenyamanan bersama.

selamat berkomunikasi,

admin

Posted by: sman70jkt | July 24, 2008

bullying ………..

Bullying is the act of intentionally causing harm to others, through verbal harassment, physical assault, or other more subtle methods of coercion such as manipulation. Bullying can be defined in many different ways. Although the UK currently has no legal definition of bullying, [2] some US states have laws against it. Bullying is usually done to coerce others by fear or threat. [3]

Bullying in school and the workplace is also referred to as peer abuse

—-

Tulisan di atas sengaja di kutip dari referensi di bawah,  sekaligus merangkum komentar dari sebagian alumni, orang tua, wali murid, guru yang menginginkan bahwa kebiasan buruk — membuat orang lain tidak nyaman sudah saatnya dihentikan mulai sekarang juga.  Masa depan masih panjang dan persaingan dunia kerja setelah lulus perguruan tinggi sangat kompetitif. Banyak instansi tidak hanya melihat dan mempertimbangkan  keunggulan akademik, namun keunggulan lainnya seperti prilaku, akhlak,komunikasi, kedewasan, kepekaan terhadap lingkungan merupakan faktor  yang sangat diperhitungkan.

—Salam

Heru, Ortu alumni dan siswa

http://en.wikipedia.org/wiki/Bullying

http://www.pekabullying.org/index_files/Page358.htm

Posted by: sman70jkt | May 30, 2008

Hello world!

Hallo semua,

webblog ini baru muncul hari jum’at, 30 Mei 2008, semoga berguna bagi warga dan pencinta sman70 dan membawa keberkahan bagi kita semua,

wasalam

–admin

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.